{"id":605,"date":"2026-08-23T17:27:30","date_gmt":"2026-08-23T17:27:30","guid":{"rendered":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605"},"modified":"2026-08-23T17:27:30","modified_gmt":"2026-08-23T17:27:30","slug":"analisis-rapbn-2027-laksamana-sukardi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605","title":{"rendered":"RAPBN 2027"},"content":{"rendered":"\n<p>Anggaran yang Terlihat Aman, Tetapi Seberapa Kuat Jika Dunia Tidak Baik-Baik Saja?<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh: Laksamana Sukardi<\/p>\n\n\n\n<p>APBN bukan sekadar kumpulan angka.<\/p>\n\n\n\n<p>APBN adalah cermin sikap pemerintah: seberapa optimistis melihat masa depan, seberapa hati-hati menghadapi risiko, dan siapa yang akhirnya harus menanggung beban ketika uang negara terbatas.<\/p>\n\n\n\n<p>RAPBN 2027 sekilas terlihat cukup menenangkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6%, inflasi 2,5%, kurs rata-rata Rp17.500 per dolar AS, harga minyak Indonesia atau ICP US$75 per barel, imbal hasil SBN 10 tahun 6,9%, dan defisit hanya 2,4% PDB.<\/p>\n\n\n\n<p>Defisit yang lebih rendah tentu patut diapresiasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi ada satu hal penting.<\/p>\n\n\n\n<p>Angka defisit 2,4% itu tidak berdiri sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia dihitung terhadap PDB dengan asumsi ekonomi tumbuh 6%. Jika pertumbuhan lebih rendah, PDB yang menjadi pembagi defisit tidak tumbuh sebesar rencana. Biasanya penerimaan negara juga ikut tertekan.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi:<\/p>\n\n\n\n<p>Defisit 2,4% terlihat meyakinkan, tetapi kekuatannya ikut bergantung pada tercapainya pertumbuhan yang diasumsikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu anggaran negara seharusnya tidak hanya dinilai ketika semua asumsi berjalan sesuai rencana.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan yang lebih penting adalah:<\/p>\n\n\n\n<p>Seberapa kuat APBN jika dunia ternyata tidak baik-baik saja?<\/p>\n\n\n\n<p>\u2e3b<\/p>\n\n\n\n<p>Asumsi yang Terlihat Rapi<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak ada satu pun asumsi RAPBN 2027 yang mustahil.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertumbuhan 6% bisa dicapai.<\/p>\n\n\n\n<p>Minyak US$75 bisa terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Inflasi 2,5% juga mungkin.<\/p>\n\n\n\n<p>Rupiah Rp17.500 dan imbal hasil SBN 6,9% bukan angka yang tidak masuk akal.<\/p>\n\n\n\n<p>Masalahnya bukan pada masing-masing angka.<\/p>\n\n\n\n<p>Masalahnya adalah:<\/p>\n\n\n\n<p>beberapa hal harus berjalan baik secara bersamaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal ekonomi tidak bekerja dalam ruang yang terpisah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u2e3b<\/p>\n\n\n\n<p>Dunia Eksternal yang Tidak Stabil<\/p>\n\n\n\n<p>Bayangkan konflik geopolitik membuat harga minyak naik.<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia harus membayar impor energi lebih mahal.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika pada saat yang sama dolar menguat, minyak menjadi semakin mahal dalam rupiah.<\/p>\n\n\n\n<p>Biaya transportasi naik.<\/p>\n\n\n\n<p>Biaya produksi naik.<\/p>\n\n\n\n<p>Inflasi meningkat.<\/p>\n\n\n\n<p>Bank Indonesia menjadi semakin sulit menurunkan suku bunga.<\/p>\n\n\n\n<p>Biaya pembiayaan pemerintah dapat tetap tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>Konsumsi dan investasi dapat melemah.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertumbuhan akhirnya ikut tertekan.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi satu variabel saja\u2014minyak\u2014dapat merambat ke seluruh sistem.<\/p>\n\n\n\n<p>Minyak, rupiah, inflasi, bunga dan pertumbuhan bukan risiko yang berdiri sendiri. Mereka saling berhubungan.<\/p>\n\n\n\n<p>*<br>Minyak US$75: Asumsi, Bukan Jaminan<\/p>\n\n\n\n<p>Asumsi ICP US$75 tidak dapat langsung dianggap tidak realistis.<\/p>\n\n\n\n<p>Harga minyak bisa berada pada level tersebut jika kondisi geopolitik membaik dan pasokan kembali normal.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi bagaimana jika tidak?<\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimana jika minyak menjadi US$90?<br>Atau US$100?<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia tidak lagi berada dalam posisi sederhana ketika harga minyak naik.<\/p>\n\n\n\n<p>Penerimaan migas memang dapat meningkat.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi pada saat yang sama subsidi dan kompensasi energi dapat meningkat, biaya impor bertambah, dan tekanan inflasi menguat.<\/p>\n\n\n\n<p>Artinya:<\/p>\n\n\n\n<p>kenaikan harga minyak dapat memperburuk posisi fiskal.<\/p>\n\n\n\n<p>*<br>Beban Lama yang Sudah Mengunci APBN<\/p>\n\n\n\n<p>Ada persoalan lain yang lebih diam tetapi sangat menentukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah merencanakan pembayaran bunga utang sekitar Rp650 triliun pada 2027.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara penerimaan pajak ditargetkan sekitar Rp2.591 triliun.<\/p>\n\n\n\n<p>Artinya:<\/p>\n\n\n\n<p>sekitar Rp25 dari setiap Rp100 penerimaan pajak setara dengan kebutuhan membayar bunga utang.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperempat!<\/p>\n\n\n\n<p>Dan ini baru bunga.<\/p>\n\n\n\n<p>Belum pokok utang yang jatuh tempo.<\/p>\n\n\n\n<p>Negara juga masih mempunyai berbagai kewajiban lain yang harus dipenuhi: pendidikan, pegawai dan pensiun, subsidi dan kompensasi, transfer ke daerah, pelayanan dasar, dan berbagai komitmen negara lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Artinya, Rp75 yang tersisa pun bukan seluruhnya uang bebas.<\/p>\n\n\n\n<p>Inilah yang dapat disebut legacy spending\u2014tagihan warisan dan kewajiban yang sudah harus dibayar.<\/p>\n\n\n\n<p>Utang masa lalu menghasilkan bunga hari ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Keputusan masa lalu menciptakan kewajiban hari ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Akibatnya, sebelum pemerintah membuat kebijakan baru, sebagian anggaran sudah mempunyai tujuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang menentukan ruang kebijakan bukan seberapa besar APBN, tetapi berapa banyak yang masih bebas digunakan setelah kewajiban dibayar.<\/p>\n\n\n\n<p>Itulah ruang fiskal yang sebenarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>*<br>Kemampuan Pajak Kita Relatif Rendah<\/p>\n\n\n\n<p>Persoalan legacy spending (warisan kewajiban pembayaran utang) menjadi lebih penting karena kemampuan Indonesia mengumpulkan pajak dibanding ukuran ekonominya masih relatif rendah.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut OECD, tax-to-GDP ratio Indonesia pada 2024 sekitar 11,8%, dibanding rata-rata 38 ekonomi Asia-Pasifik sekitar 19,7%.<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia termasuk yang terendah dalam kelompok tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai gambaran, tax ratio Malaysia sekitar 13%, Thailand 17,1%, Vietnam 17,2%, Filipina 18,1%, dan China 19,5%.<\/p>\n\n\n\n<p>Perbandingan antarnegara memang tidak sempurna karena struktur ekonomi dan sistem perpajakannya berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi pesannya jelas:<\/p>\n\n\n\n<p>kapasitas penerimaan pajak Indonesia relatif kecil dibanding ukuran ekonominya.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu kita tidak cukup mengatakan utang Indonesia masih aman hanya karena debt-to-GDP berada sekitar 40%.<\/p>\n\n\n\n<p>Debt-to-GDP memang penting.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi:<\/p>\n\n\n\n<p>negara tidak membayar utang dengan PDB. Negara membayar utang dengan penerimaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Semakin terbatas penerimaan, semakin berat setiap kewajiban yang harus dilayani.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini bukan berarti Indonesia sedang menghadapi krisis utang.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi lampu kuningnya perlu diperhatikan.<\/p>\n\n\n\n<p>*<br>Lalu Bagaimana dengan Pendapatan Bukan Pajak?<\/p>\n\n\n\n<p>Di luar pajak, negara mempunyai sumber pendapatan lain yang disebut Penerimaan Negara Bukan Pajak, atau PNBP.<\/p>\n\n\n\n<p>Sumbernya antara lain berasal dari sumber daya alam, layanan pemerintah, pengelolaan aset negara dan berbagai penerimaan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada 2025, realisasi PNBP mencapai sekitar Rp534,1 triliun.<\/p>\n\n\n\n<p>Outlook 2026 sekitar Rp575,1 triliun.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan RAPBN 2027 menargetkan PNBP sekitar Rp517,4 triliun.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi ada satu hal yang perlu diluruskan.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika total pendapatan negara Rp3.426 triliun dikurangi penerimaan pajak Rp2.591 triliun, selisihnya memang sekitar Rp835 triliun.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi angka itu bukan seluruhnya PNBP, karena penerimaan perpajakan juga mencakup kepabeanan dan cukai.<\/p>\n\n\n\n<p>Target PNBP 2027 justru lebih rendah dibanding outlook 2026.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan di sini muncul pertanyaan yang menarik.<\/p>\n\n\n\n<p>\u2e3b<\/p>\n\n\n\n<p>Dari Mana Kualitas PNBP Akan Datang?<\/p>\n\n\n\n<p>Struktur PNBP Indonesia juga sedang berubah.<\/p>\n\n\n\n<p>Dividen BUMN yang sebelumnya menjadi salah satu sumber PNBP kini tidak lagi seluruhnya mengalir seperti sebelumnya ke APBN, tetapi dikelola melalui Danantara.<\/p>\n\n\n\n<p>Dividen tersebut tentu tidak berarti hilang dari kekayaan negara.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi bagi APBN terdapat perbedaan penting antara:<\/p>\n\n\n\n<p>memiliki aset<\/p>\n\n\n\n<p>dan<\/p>\n\n\n\n<p>memiliki cash flow yang tersedia untuk membayar kewajiban tahun berjalan.<\/p>\n\n\n\n<p>Aset negara mungkin tetap ada, tetapi uang yang tersedia di kas APBN belum tentu sama.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan bagi APBN yang setiap tahun harus membayar bunga, subsidi, pendidikan dan berbagai kewajiban lainnya:<\/p>\n\n\n\n<p>cash flow matters.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu pertanyaan mengenai PNBP tidak cukup hanya:<\/p>\n\n\n\n<p>berapa besar targetnya?<\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan yang lebih penting adalah:<\/p>\n\n\n\n<p>dari mana penerimaan tersebut berasal, dan seberapa berkelanjutan sumbernya?<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah dari harga komoditas yang lebih tinggi?<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah dari peningkatan produksi sumber daya alam?<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah dari perbaikan royalti dan penerimaan pertambangan?<\/p>\n\n\n\n<p>Atau dari perbaikan tata kelola ekspor sehingga praktik seperti under-invoicing dan berbagai kebocoran penerimaan dapat dikurangi?<\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan ini penting karena kualitas penerimaan berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika PNBP meningkat karena harga komoditas dunia sedang tinggi, penerimaan tersebut dapat turun kembali ketika siklus komoditas berbalik.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi jika penerimaan meningkat karena tata kelola membaik dan kebocoran berkurang, peningkatannya jauh lebih sehat dan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Harga komoditas berada di luar kendali pemerintah. Tata kelola berada di dalam kendali pemerintah.<\/p>\n\n\n\n<p>Itulah perbedaan antara sekadar meningkatkan penerimaan dan memperbaiki kualitas penerimaan.<\/p>\n\n\n\n<p>*<br>Dari Mana Ruang Kebijakan Diciptakan?<\/p>\n\n\n\n<p>Sekarang persoalannya semakin jelas.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah ingin defisit turun menjadi 2,4%.<\/p>\n\n\n\n<p>Bunga utang harus dibayar.<\/p>\n\n\n\n<p>Program prioritas harus berjalan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tax ratio masih rendah.<\/p>\n\n\n\n<p>PNBP mempunyai keterbatasan dan struktur yang berubah.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka pemerintah hanya mempunyai beberapa pilihan:<\/p>\n\n\n\n<p>meningkatkan penerimaan,<\/p>\n\n\n\n<p>membuat belanja lebih efisien,<\/p>\n\n\n\n<p>menunda atau mengurangi program prioritas.<\/p>\n\n\n\n<p>atau menggeser beban ke pos lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan di sinilah Transfer ke Daerah, atau TKD, menjadi bagian penting dari cerita.<\/p>\n\n\n\n<p>*<br>Transfer ke Daerah: Tekanan yang Sering Tidak Terlihat<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam RAPBN 2027, TKD direncanakan sekitar Rp735 triliun.<\/p>\n\n\n\n<p>Angka itu memang meningkat sekitar 5,5% dibanding outlook 2026.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi pada 2025, pagu TKD pernah berada sekitar Rp919 triliun.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi ketika kita mendengar bahwa TKD naik, kita juga harus bertanya:<\/p>\n\n\n\n<p>naik dari basis yang mana?<\/p>\n\n\n\n<p>Bayangkan seseorang sebelumnya menerima Rp100.<\/p>\n\n\n\n<p>Pendapatannya turun menjadi Rp70.<\/p>\n\n\n\n<p>Tahun berikutnya naik menjadi Rp74.<\/p>\n\n\n\n<p>Benar bahwa pendapatannya naik.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi belum kembali ke posisi sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan TKD bukan sekadar angka transfer.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia membantu menopang sekolah, guru, puskesmas, jalan dan pelayanan pemerintah yang langsung dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>*<br>Desentralisasi Adalah Bagian dari Desain Republik<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah Reformasi, Indonesia mengambil keputusan besar untuk melakukan desentralisasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Kekuasaan dan sumber daya tidak lagi seluruhnya dikonsentrasikan di Jakarta.<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia terlalu besar dan terlalu beragam untuk dikelola hanya dari satu titik.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu transfer ke daerah bukan sekadar pos dalam APBN.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia merupakan bagian dari arsitektur Republik.<\/p>\n\n\n\n<p>Memang tidak semua persoalan fiskal daerah berasal dari pemerintah pusat.<\/p>\n\n\n\n<p>Daerah juga harus meningkatkan efisiensi, kualitas belanja dan pendapatannya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi apabila ketergantungan terhadap pusat masih tinggi sementara ruang fiskalnya menyempit, tekanan dapat berpindah dari APBN ke APBD.<\/p>\n\n\n\n<p>Daerah bukan cabang kantor pemerintah pusat. Daerah adalah bagian dari Republik.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan:<\/p>\n\n\n\n<p>jangan sampai APBN pusat terlihat sehat karena APBD dibuat sakit.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena pada akhirnya masyarakat tidak hidup di dalam tabel APBN.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka hidup dengan pelayanan negara yang mereka rasakan setiap hari.<\/p>\n\n\n\n<p>*<br>Siapa yang Menanggung Penyesuaian?<\/p>\n\n\n\n<p>Sekarang kita dapat melihat RAPBN 2027 sebagai satu kesatuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertumbuhan ditargetkan 6%.<\/p>\n\n\n\n<p>Defisit 2,4%.<\/p>\n\n\n\n<p>Bunga utang harus dibayar.<\/p>\n\n\n\n<p>Tax ratio relatif rendah.<\/p>\n\n\n\n<p>PNBP mempunyai keterbatasan dan struktur yang berubah.<\/p>\n\n\n\n<p>Daerah tetap membutuhkan ruang.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara dunia luar masih penuh ketidakpastian.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka pertanyaannya menjadi sangat sederhana:<\/p>\n\n\n\n<p>kalau negara harus berhemat, siapa yang diminta berkorban?<\/p>\n\n\n\n<p>Pusat?<\/p>\n\n\n\n<p>Program yang kurang produktif?<\/p>\n\n\n\n<p>Subsidi yang tidak tepat sasaran?<\/p>\n\n\n\n<p>BUMN?<\/p>\n\n\n\n<p>Atau daerah?<\/p>\n\n\n\n<p>Karena kualitas APBN bukan hanya ditentukan oleh besar kecilnya defisit.<\/p>\n\n\n\n<p>Kualitas APBN juga ditentukan oleh siapa yang menanggung penyesuaian ketika keadaan berubah.<\/p>\n\n\n\n<p>*<br>Lima Pertanyaan Kunci<\/p>\n\n\n\n<p>Masyarakat tidak perlu menghafal seluruh angka RAPBN.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi masyarakat berhak memperoleh jawaban atas beberapa pertanyaan sederhana.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertama, apa yang dilakukan jika harga minyak jauh di atas US$75?<\/p>\n\n\n\n<p>Kedua, bagaimana menjaga agar beban bunga tidak terus meningkat terhadap penerimaan?<\/p>\n\n\n\n<p>Ketiga, bagaimana meningkatkan tax ratio dan kualitas PNBP\u2014termasuk menutup kebocoran\u2014tanpa hanya membebani wajib pajak yang sudah patuh?<\/p>\n\n\n\n<p>Keempat, bagaimana memastikan konsolidasi fiskal tidak melemahkan kemampuan daerah memberikan pelayanan?<\/p>\n\n\n\n<p>Kelima, jika asumsi RAPBN meleset, belanja apa yang pertama kali akan dikurangi?<\/p>\n\n\n\n<p>*<br>APBN Adalah Cermin Ketahanan<\/p>\n\n\n\n<p>RAPBN 2027 bukan anggaran yang buruk.<\/p>\n\n\n\n<p>Defisit 2,4% menunjukkan keinginan pemerintah menjaga disiplin fiskal.<\/p>\n\n\n\n<p>Itu baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi disiplin fiskal tidak cukup hanya terlihat dari angka defisit.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita juga harus melihat asumsi pertumbuhan yang menopangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Harga minyak dan risiko geopolitik.<\/p>\n\n\n\n<p>Beban bunga utang.<\/p>\n\n\n\n<p>Legacy spending.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemampuan pajak.<\/p>\n\n\n\n<p>Kualitas PNBP.<\/p>\n\n\n\n<p>Kekuatan fiskal daerah.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan kemampuan APBN menghadapi guncangan dari luar.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena:<\/p>\n\n\n\n<p>anggaran yang baik bukan anggaran yang terlihat hebat ketika semua asumsi benar.<\/p>\n\n\n\n<p>Anggaran yang baik adalah anggaran yang tetap mampu melindungi rakyat ketika asumsi pemerintah ternyata salah.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan pada akhirnya pertanyaan terbesar RAPBN 2027 bukan hanya tentang angka defisit.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi:<\/p>\n\n\n\n<p>setelah semua kewajiban dibayar, berapa banyak ruang yang masih tersedia untuk membangun masa depan?<\/p>\n\n\n\n<p>Utang hari ini ikut menentukan pilihan pemerintah esok hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Begitu pula cara kita mengelola pajak, sumber daya alam, BUMN dan hubungan pusat-daerah.<\/p>\n\n\n\n<p>APBN memang harus sehat.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi kesehatan APBN bukan tujuan akhir.<\/p>\n\n\n\n<p>Tujuannya adalah:<\/p>\n\n\n\n<p>negara yang tetap mampu menjalankan kewajibannya, melindungi rakyatnya, dan membangun masa depannya\u2014bahkan ketika dunia tidak berjalan sesuai harapan.*<\/p>\n\n\n\n<p>Jakarta, 23 Agustus 2026<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anggaran yang Terlihat Aman, Tetapi Seberapa Kuat Jika Dunia Tidak Baik-Baik Saja? Oleh: Laksamana Sukardi APBN bukan sekadar kumpulan angka. APBN adalah cermin sikap pemerintah: seberapa optimistis melihat masa depan, seberapa hati-hati menghadapi risiko, dan siapa yang akhirnya harus menanggung beban ketika uang negara terbatas. RAPBN 2027 sekilas terlihat cukup menenangkan. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":606,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_uag_custom_page_level_css":"","wpupg_custom_link":[],"wpupg_custom_link_behaviour":[],"wpupg_custom_link_nofollow":[],"wpupg_custom_image":[],"wpupg_custom_image_id":[],"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-605","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-economics"],"blocksy_meta":[],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>RAPBN 2027 - Libertas Scriptorium<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Analisis kritis Laksamana Sukardi terhadap RAPBN 2027. Mengulas risiko asumsi makro, beban bunga utang Rp650 T, tax ratio rendah, hingga dampak transfer ke daerah.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"RAPBN 2027 - Libertas Scriptorium\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Analisis kritis Laksamana Sukardi terhadap RAPBN 2027. Mengulas risiko asumsi makro, beban bunga utang Rp650 T, tax ratio rendah, hingga dampak transfer ke daerah.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Libertas Scriptorium\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-08-23T17:27:30+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/libertasscriptorium.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"900\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"author ls\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"author ls\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/?p=605#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/?p=605\"},\"author\":{\"name\":\"author ls\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/303cc893f2046555c10888f5824a7303\"},\"headline\":\"RAPBN 2027\",\"datePublished\":\"2026-08-23T17:27:30+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/?p=605\"},\"wordCount\":1641,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/?p=605#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/08\\\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16.jpeg\",\"articleSection\":[\"Economics\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/?p=605#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/?p=605\",\"url\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/?p=605\",\"name\":\"RAPBN 2027 - Libertas Scriptorium\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/?p=605#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/?p=605#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/08\\\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-08-23T17:27:30+00:00\",\"description\":\"Analisis kritis Laksamana Sukardi terhadap RAPBN 2027. Mengulas risiko asumsi makro, beban bunga utang Rp650 T, tax ratio rendah, hingga dampak transfer ke daerah.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/?p=605#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/?p=605\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/?p=605#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/08\\\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/08\\\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16.jpeg\",\"width\":1600,\"height\":900},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/?p=605#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"RAPBN 2027\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/\",\"name\":\"Libertas Scriptorium\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/#organization\",\"name\":\"Libertas Scriptorium\",\"url\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/12\\\/ls1-bg-clear.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/12\\\/ls1-bg-clear.png\",\"width\":1080,\"height\":1080,\"caption\":\"Libertas Scriptorium\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/303cc893f2046555c10888f5824a7303\",\"name\":\"author ls\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/6606b73d15218b2ce948d0d80fbb88f77a8382d241f9081469d7a2516fd98ddd?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/6606b73d15218b2ce948d0d80fbb88f77a8382d241f9081469d7a2516fd98ddd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/6606b73d15218b2ce948d0d80fbb88f77a8382d241f9081469d7a2516fd98ddd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"author ls\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/libertasscriptorium.com\\\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"RAPBN 2027 - Libertas Scriptorium","description":"Analisis kritis Laksamana Sukardi terhadap RAPBN 2027. Mengulas risiko asumsi makro, beban bunga utang Rp650 T, tax ratio rendah, hingga dampak transfer ke daerah.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"RAPBN 2027 - Libertas Scriptorium","og_description":"Analisis kritis Laksamana Sukardi terhadap RAPBN 2027. Mengulas risiko asumsi makro, beban bunga utang Rp650 T, tax ratio rendah, hingga dampak transfer ke daerah.","og_url":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605","og_site_name":"Libertas Scriptorium","article_published_time":"2026-08-23T17:27:30+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":900,"url":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"author ls","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"author ls","Est. reading time":"8 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605"},"author":{"name":"author ls","@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/#\/schema\/person\/303cc893f2046555c10888f5824a7303"},"headline":"RAPBN 2027","datePublished":"2026-08-23T17:27:30+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605"},"wordCount":1641,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16.jpeg","articleSection":["Economics"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605","url":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605","name":"RAPBN 2027 - Libertas Scriptorium","isPartOf":{"@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16.jpeg","datePublished":"2026-08-23T17:27:30+00:00","description":"Analisis kritis Laksamana Sukardi terhadap RAPBN 2027. Mengulas risiko asumsi makro, beban bunga utang Rp650 T, tax ratio rendah, hingga dampak transfer ke daerah.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605#primaryimage","url":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16.jpeg","contentUrl":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16.jpeg","width":1600,"height":900},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?p=605#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"RAPBN 2027"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/#website","url":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/","name":"Libertas Scriptorium","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/#organization","name":"Libertas Scriptorium","url":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ls1-bg-clear.png","contentUrl":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/ls1-bg-clear.png","width":1080,"height":1080,"caption":"Libertas Scriptorium"},"image":{"@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/#\/schema\/person\/303cc893f2046555c10888f5824a7303","name":"author ls","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/6606b73d15218b2ce948d0d80fbb88f77a8382d241f9081469d7a2516fd98ddd?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/6606b73d15218b2ce948d0d80fbb88f77a8382d241f9081469d7a2516fd98ddd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/6606b73d15218b2ce948d0d80fbb88f77a8382d241f9081469d7a2516fd98ddd?s=96&d=mm&r=g","caption":"author ls"},"url":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?author=3"}]}},"uagb_featured_image_src":{"full":["https:\/\/libertasscriptorium.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16.jpeg",1600,900,false],"thumbnail":["https:\/\/libertasscriptorium.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16-150x150.jpeg",150,150,true],"medium":["https:\/\/libertasscriptorium.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16-300x169.jpeg",300,169,true],"medium_large":["https:\/\/libertasscriptorium.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16-768x432.jpeg",768,432,true],"large":["https:\/\/libertasscriptorium.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16-1024x576.jpeg",1024,576,true],"1536x1536":["https:\/\/libertasscriptorium.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16-1536x864.jpeg",1536,864,true],"2048x2048":["https:\/\/libertasscriptorium.com\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-23-at-20.58.16.jpeg",1600,900,false]},"uagb_author_info":{"display_name":"author ls","author_link":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/?author=3"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Anggaran yang Terlihat Aman, Tetapi Seberapa Kuat Jika Dunia Tidak Baik-Baik Saja? Oleh: Laksamana Sukardi APBN bukan sekadar kumpulan angka. APBN adalah cermin sikap pemerintah: seberapa optimistis melihat masa depan, seberapa hati-hati menghadapi risiko, dan siapa yang akhirnya harus menanggung beban ketika uang negara terbatas. RAPBN 2027 sekilas terlihat cukup menenangkan. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/605","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=605"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/605\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":607,"href":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/605\/revisions\/607"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/606"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=605"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=605"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/libertasscriptorium.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=605"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}