Pelajaran Geopolitik yang Sering Dilupakan Indonesia

Oleh: Laksamana Sukardi

Pada pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 1992, Bill Clinton mengalahkan Presiden petahana George H. W. Bush dengan sebuah slogan yang kemudian menjadi legendaris: “It’s the economy, stupid!”

Slogan itu bukan sekadar kalimat kampanye. Ia adalah pengingat brutal tentang prioritas negara.

Saat itu Bush baru saja memenangkan Perang Teluk melawan Irak. Secara militer ia dianggap berhasil. Amerika menunjukkan kekuatan militernya kepada dunia.

Namun rakyat Amerika tidak memilih presiden berdasarkan kemenangan perang.

Mereka memilih presiden berdasarkan kondisi ekonomi di rumah mereka sendiri.

Bush terlalu fokus pada geopolitik dan perang luar negeri, sementara ekonomi domestik melemah. Clinton menang karena memahami satu hal sederhana:

Pada akhirnya, kekuatan sebuah negara ditentukan oleh ekonominya.

Pertanyaannya: apakah Indonesia memahami pelajaran ini?

Pertahanan Nasional yang Sebenarnya

Dalam diskursus nasional, pertahanan negara sering dipersempit menjadi persoalan senjata, pesawat tempur, kapal perang, dan rudal.

Namun dalam dunia modern, pertahanan nasional tidak lagi dimulai dari pangkalan militer.

Ia dimulai dari ketahanan ekonomi.

Indonesia hari ini hidup dalam sebuah realitas baru: kita telah sepenuhnya terintegrasi dalam ekosistem ekonomi global. Modal (dana) internasional, perdagangan global, sistem pembayaran lintas negara, dan aliran energi dunia telah menjadi titik nadi dari kehidupan ekonomi nasional.

Masalahnya adalah satu hal: Indonesia berada pada posisi yang sangat rentan.

Ketergantungan terhadap lembaga internasional peringkat risiko, ketergantungan pada payment system International (SWIFT), perbankan international yang mengontrol rekening para pejabat oligarki, ketergantungan pada import energi, kesemuanya itu membuat ketahanan (resilience) Indonesia berada dalam genggaman pihak asing.

Dalam kondisi seperti ini, musuh tidak perlu mengirimkan rudal untuk melumpuhkan Indonesia.
Cukup menurunkan peringkat risiko Indonesia!

Senjata yang Tidak Mengeluarkan Peluru

Pengalaman baru-baru ini memberi pelajaran yang sangat jelas.
Ketika muncul rencana dari MSCI untuk menurunkan peringkat pasar modal Indonesia, kepanikan langsung menjalar ke simpul-simpul ekonomi nasional. Ancaman keluarnya aliran modal, jatuhnya indeks harga saham, hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah segera muncul.

Jika lembaga-lembaga pemeringkat seperti Moody’s, S&P dan Fitch menurunkan (down grade) peringkat risiko Indonesia, dampaknya bisa sangat besar: biaya utang meningkat, investor menarik modal, dan stabilitas keuangan nasional terguncang.

Tidak ada jet tempur.
Tidak ada rudal.
Tidak ada kapal perang.

Namun efeknya bisa lebih merusak daripada perang konvensional.
Inilah wajah perang modern yang dihadapi Indonesia saat ini.

Ketahanan Energi yang Rapuh

Kerapuhan Indonesia tidak berhenti di sektor keuangan.
Dalam hal energi, Indonesia berada dalam posisi yang rawan.

Lebih dari separuh pasokan minyak nasional berasal dari impor. Sebagian besar pasokan tersebut melewati Selat Malaka dan selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Jika jalur ini terganggu, dampaknya akan langsung terasa pada kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah fakta bahwa cadangan strategis minyak nasional Indonesia hanya sekitar 20 hari.
Dan itu pun bukan sepenuhnya cadangan bahan bakar siap pakai, karena termasuk produk turunan seperti avtur dan komponen lainnya.

Bandingkan dengan negara-negara maju yang memiliki cadangan strategis hingga 90 hari atau lebih.

Selama puluhan tahun, Indonesia tidak menaruh prioritas pembangunan tangki penyimpanan minyak strategis.

Padahal dalam situasi krisis, logistik energi jauh lebih menentukan daripada pesawat tempur.

Perang Tanpa Tentara

Ancaman terhadap ketahanan nasional juga datang dari dunia yang bahkan tidak terlihat: ruang siber.

Teknologi cyber berkembang sangat cepat. Dalam dunia modern, ratusan batalion tentara bisa menjadi tidak relevan jika sebuah negara gagal melindungi infrastruktur digitalnya.

Sekelompok kecil peretas yang terampil dapat melumpuhkan instalasi strategis nasional.

Mereka dapat:


• meretas sistem kelistrikan nasional dan membuat Indonesia gelap gulita
• mengganggu sistem kontrol penerbangan di bandara
• merusak sistem perbankan sehingga dana deposan hilang
• menghancurkan kepercayaan terhadap sistem keuangan

Dalam perang modern, keyboard bisa menjadi senjata yang lebih mematikan daripada tank.

Bom Waktu dari Dalam Negeri

Ancaman terhadap ketahanan nasional Indonesia tidak hanya datang dari luar negeri.

Sebagian besar justru berasal dari dalam negeri sendiri.

Korupsi yang merajalela, kesenjangan sosial yang semakin melebar, serta penegakan hukum yang tidak konsisten telah menjadi ranjau yang mematikan dan menciptakan bom waktu sosial.

Ketika ekonomi terguncang, struktur sosial yang rapuh dapat dengan cepat berubah menjadi krisis sosial dan politik.

Sejarah dunia menunjukkan bahwa banyak negara runtuh bukan karena serangan militer dari luar, tetapi karena ketidakstabilan internal yang dipicu oleh krisis ekonomi.

Disiplin Fiskal adalah Pertahanan Negara

Pertahanan pada garda yang paling depan adalah stabilitas dan disiplin fiskal (APBN).

Dalam situasi seperti ini, kebijakan penggunaan anggaran negara menjadi sangat penting.

Jika anggaran negara tidak dikelola secara hati-hati, pertahanan nasional bisa porak poranda. Karena sosial, ekonomi politik dapat memasuki spiral krisis yang berbahaya.

Serangan ekonomi dapat memicu krisis fiskal.
Krisis fiskal dapat memicu krisis keuangan.
Krisis keuangan dapat memicu krisis sosial.

Pada titik tertentu, sebuah negara dapat memasuki mode “self-destruction.”

Negara tidak dihancurkan oleh rudal musuh dari luar.
Negara menghancurkan dirinya sendiri.

Senjata yang Sesungguhnya

Dalam dunia modern, pertahanan nasional tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah tank atau kapal perang.

Pertahanan nasional ditentukan oleh:
• tata kelola negara yang baik.
• transparansi
• kepastian hukum
• kepercayaan pasar
• ketahanan energi
• stabilitas fiskal

Ironisnya, justru faktor-faktor inilah yang sering kali diabaikan.

Kita lebih sibuk dengan politik kekuasaan anggaran jangka pendek daripada membangun fondasi ekonomi jangka panjang.

Padahal dalam dunia modern, kepercayaan ekonomi adalah benteng strategis sebuah negara.

Kita patut mencontoh China, yaitu setelah kedigdayaan ekonomi tercapai maka China dapat memproduksi arsenal persenjataan secara mandiri dengan biaya sendiri.

Pelajaran yang Terlupakan

Pelajaran dari slogan kampanye Bill Clinton tiga puluh tahun lalu tetap relevan hingga hari ini.

Pada akhirnya, kekuatan militer hanya bisa dipertahankan jika didukung oleh kekuatan ekonomi.

Tanpa ekonomi yang kuat, senjata secanggih apa pun menjadi tidak berarti, karena kesenjangan ekonomi yang besar membentuk kecemburuan sosial dan menjadi perlawanan yang datang dari dalam negeri sendiri.

Indonesia memiliki semua potensi untuk menjadi negara besar.

Namun semua itu tergantung apakah kita mampu mengontrol belanja sesuai dengan kapasitas penerimaan,
atau
Lebih memilih menggadaikan masa depan bangsa dengan menggantungkan diri pada utang luar negeri.

Karena itu, bagi Indonesia hari ini, pesan yang paling penting mungkin memang sesederhana ini:

“It’s the economy, stupid.”

Bukan sebagai penghinaan.

Melainkan sebagai peringatan.

Jakarta, 9 Maret 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *