Oleh: Laksamana Sukardi
Fiskal, atau yang kita sebut dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sering diperlakukan seperti deretan angka yang datang secara rutin. Namun sesungguhnya, ia bukan sekadar tabel. Ia adalah puisi yang ditulis tanpa ritme, tentang ke mana sebuah bangsa memilih melangkah, atau tersesat tanpa sadar. Fiscal dapat meramalkan nasib dan masa depan bangsa.
Di sana, dalam baris-baris angka itu, tersembunyi pilihan:
apakah sebuah bangsa menanam pohon untuk generasi mendatang,
atau sekadar memetik buah yang bahkan belum sempat matang.
Fiskal adalah cermin masa depan.
Ia tidak berbohong, hanya sering tidak dibaca dengan jujur.
Ada bangsa yang menggunakan fiskalnya untuk membangun kekuatan, diam-diam, disiplin, dan sabar. Mereka menanam investasi pada ilmu, teknologi, dan infrastruktur industri; mereka memberi kail, lalu mengajarkan cara memancing. Hasilnya tidak selalu segera terlihat, tetapi akar akarnya menembus waktu.
Dan ada pula bangsa yang memilih jalan yang lebih populis; terlalu lembut.
Subsidi mengalir seperti lullaby, meninabobokan.
Rakyat diberi ikan, lagi dan lagi, hingga lupa bahwa laut itu luas dan kailnya berkarat.
Di titik itu, bantuan berubah menjadi candu.
Hak terasa semakin besar, kewajiban semakin ringan.
Etos kerja perlahan memudar, bukan karena rakyatnya lemah, tetapi karena sistemnya mengajarkan untuk tidak perlu kuat.
Fiskal juga berbicara tentang kejujuran, meski sering dengan bahasa yang getir.
Tax ratio(pendapatan pajak dibanding PDB), angka yang tampak teknis itu, sebenarnya adalah ukuran kepercayaan.
Seberapa besar rakyat percaya pada negaranya,
dan seberapa bersih negara memperlakukan kepercayaan itu.
Ketika rasio pajak rendah, sering kali bukan karena rakyat tak mau memberi,
melainkan karena mereka tak yakin ke mana pemberian itu akan pergi.
Di sana, efisiensi dan korupsi berdiri berhadapan,
seperti bayangan tubuh yang tak bisa dipisahkan.
Namun ada bentuk fiskal yang lebih berbahaya: fiskal yang agresif, bahkan brutal.
Ia tidak lagi sekadar mengatur arah, tetapi memaksakan ambisi.
Anggaran dibengkokkan untuk melayani kekuasaan, bukan masa depan.
Utang diambil bukan sebagai jembatan, tetapi sebagai ilusi kemajuan.
Setiap tahun, angka utang bertambah; seolah itu prestasi.
Padahal, kadang ia hanya menutupi satu kenyataan sederhana:
Sebuah bangsa ingin hidup lebih besar dari kemampuan mereka bekerja.
Di baliknya, tersembunyi pertanyaan yang jarang diajukan:
apakah ini keberanian membangun, atau sekadar ketakutan menghadapi kenyataan?
Alokasi anggaran adalah peta.
Ia menunjukkan ke mana kapal besar bernama negara diarahkan.
Jika riset dan pengembangan dipinggirkan,
jangan heran jika ada bangsa yang selamanya membeli, bukan mencipta.
Jika industri tidak dibangun,
jangan terkejut jika negara hanya menjadi pasar yang ramai, tetapi tidak pernah menjadi produsen yang kuat.
Dan jika pengawasan dilemahkan,
maka kebocoran bukan lagi kecelakaan, melainkan bagian dari desain yang diam-diam diterima.
Korupsi, dalam fiskal yang buruk, tidak datang sebagai badai.
Ia datang seperti kanker, perlahan, sunyi, dan sering disangkal dan end-game nya mematikan.
Menariknya, pola ini bukan misteri.
Bangsa-bangsa yang berhasil melompat ke pendapatan tinggi, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, Taiwan, Singapura, tidak hanya bekerja keras; ketika masih miskin, mereka menulis fiskalnya dengan disiplin dan visi jangka panjang.
Sebaliknya, negara-negara yang miskin kekal dan terjebak di pendapatan menengah sering memiliki cerita yang serupa:
konsumsi lebih diprioritaskan daripada produksi,
subsidi lebih mudah daripada reformasi,
dan utang lebih nyaman daripada perubahan struktural. Padahal masa depan bangsa telah digadaikan melalui utang.
Seolah-olah semua membaca buku yang sama,
tetapi memilih halaman yang berbeda untuk dihafal.
Pada akhirnya, fiskal bukan hanya soal pemerintah.
Ia adalah kontrak sosial.
Karena uang itu berasal dari rakyat, maka hak untuk mengaturnya seharusnya berada di tangan wakil rakyat. Di sanalah parlemen berdiri; bukan sebagai panggung formalitas, tetapi sebagai arena perdebatan yang hidup.
Namun ketika perdebatan menjadi sunyi,
transparansi menjadi kabur,
dan keputusan diambil tanpa ada pertanyaan,
maka fiskal kehilangan rohnya. Ibaratnya seperti paduan suara para tuna rungu dengan konduktor yang tidak memahami bahasa isyarat.
Nyanyian tetap berkumandang, tetapi tanpa arah yang terorganisir.
Dari struktur fiskal, kita bisa membaca nasib sebuah bangsa; jika kita mau jujur membacanya.
Kadang, banyak orang merasa sudah yakin dan merasa benar.
Grafik terlihat stabil, angka tampak terkendali, narasi terdengar meyakinkan.
Namun ada kemungkinan yang lebih sunyi, lebih berbahaya: yaitu
Perasaan berada pada jalur rel yang benar,
tetapi tanpa disadari menuju arah yang salah (on the right track, on the wrong direction).
Jika ini terjadi, semakin cepat negara tersebut melaju semakin jauh tertinggal.
Dan dalam keheningan angka-angka yang tidak terdengar,
masa depan telah ditentukan,
jauh sebelum terjadinya masalah besar.
Jakarta, 18 Maret 2026.





